Wartafakta.com- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus memperjuangkan kesejahteraan guru di Indonesia. Upaya ini tertuang dalam RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang mendorong pendapatan yang layak bagi semua guru.

“RUU Sisdiknas merupakan upaya agar semua guru memperoleh penghasilan yang layak sebagai bentuk bias guru. Undang-undang ini menyatakan bahwa guru yang telah menerima tantiem profesi, baik dari PNS maupun non-guru dari luar ASN, Tunjangan ini tetap diterima sampai pensiun, sepanjang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Ioan Sihrl melalui program media virtual Taklimat, Senin (29/8).

“RUU ini juga mengatur bahwa guru yang sudah mengajar tetapi belum memiliki sertifikat mengajar akan langsung mendapatkan penghasilan yang layak tanpa harus mengantre untuk mendapatkan sertifikat,” tambah Iwan Siahrel.

Lebih lanjut, General Manager GTK menjelaskan bahwa guru ASN yang telah mengajar namun belum memiliki sertifikasi guru akan mendapatkan penghasilan yang layak sesuai UU ASN. “Dengan demikian, guru ASN yang tidak menerima tunjangan karir otomatis mendapatkan peningkatan pendapatan melalui tunjangan yang diatur dalam UU ASN, tanpa harus mengantre panjang untuk sertifikasi,” ujarnya.

Bagi guru non-ASN yang sudah mengajar tetapi belum memiliki sertifikat mengajar, pemerintah akan meningkatkan Bantuan Operasional kepada Satuan Pendidikan untuk membantu lembaga pendidikan memberikan pendapatan yang lebih tinggi bagi gurunya sesuai dengan UU Ketenagakerjaan. “Sistem ini membuat institusi pendidikan lebih mampu mengelola sumber daya manusianya,” kata General Manager GTK.

Pada intinya, lanjut Dirjen GTK, dengan pengaturan yang diusulkan dalam UU Sisdiknas, guru yang menerima tantiem profesi akan tetap menerima tunjangan tersebut hingga pensiun.

“Sementara itu, guru yang belum mendapatkan bonus profesi bisa langsung mendapatkan peningkatan pendapatan, tanpa harus mengantre panjang untuk sertifikasi,” kata Iwan Siharel.

Selain itu, RUU Sistem Pendidikan Nasional memberikan pengakuan kepada guru di PAUD dan pemerataan. Melalui undang-undang ini, satuan PAUD yang memberikan pelayanan untuk usia 3 sampai 5 tahun dapat diakui sebagai satuan pendidikan formal. Dengan demikian, guru pada satuan pendidikan dapat diakui dan memperoleh penghasilan sebagai guru, sepanjang memenuhi persyaratan. Hal yang sama berlaku bagi guru di satuan pendidikan nonformal yang melaksanakan program kesetaraan yang memenuhi syarat.

Selaku guru dan Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Pengurus Sekolah Indonesia, Dudung Nurullah Koswara mengatakan, pemerintah memiliki semangat untuk meningkatkan harkat dan martabat guru, salah satunya meningkatkan kesejahteraan melalui pendapatan yang layak. “Kami sepakat untuk memuliakan guru bersama. Kami memahami bahwa ada upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan harkat dan martabat guru. Kami mendorong dan memantau UU Pendidikan Nasional. Jika ada kepantasan untuk mengukuhkan bonus, kami menyambutnya,” ujarnya. dikatakan. .

“Kami sangat yakin bahwa pemerintah saat ini mandiri dalam belajar dan akan menjunjung semangat gaung untuk membebaskan anak-anak dan guru dalam belajar dan kehidupannya, untuk menjadi lebih baik di masa depan. Guru bebas mengajar dan otonomi melaksanakan,” kata Dodong , yang kini menjadi Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi.

Niti Hirawati, Ketua Umum Himpunan Guru Anak Usia Dini dan Tenaga Kependidikan Indonesia (HIMPAUDI) mengapresiasi seriusnya penyusunan RUU Sistem Pendidikan Nasional berbasis database dan problem solving di lapangan. Salah satunya adalah pengakuan PAUD yang melayani anak usia 3-5 tahun sebagai PAUD resmi. Demikian pula pengakuan terhadap guru yang memenuhi syarat sebagai guru. “Saya kira ini bentuk keadilan, bentuk kesusilaan dimana ketika seorang guru memenuhi standar, kompetensi dan kualifikasi, dia berhak mendapatkan pengakuan ini,” ujarnya.

Ia juga mengimbau kepada para guru agar tidak khawatir dengan rumor yang beredar bahwa pemerintah akan membatalkan Tunjangan Profesi Guru (TPG). “Saya tidak melihat ada pasal yang mengacu pada penghapusan tunjangan profesi guru,” katanya.

“UU ini tidak perlu dikhawatirkan. Penting bagi kita untuk mengawal aturan turunan undang-undang ini. Ini perlu diperkuat,” tambah Niti Hirawati.

Dalam kesempatan yang sama, Ki Sur Pangaitan XIII, Ketua Badan Permusyawaratan Perguruan Tinggi Swasta (BMPS) sekaligus Panitera Umum Dewan Besar Asosiasi Tamansiswa, mengatakan penyelenggara pendidikan swasta menginginkan kesetaraan antara guru, baik guru di sekolah negeri. atau sekolah swasta, baik yang berstatus ASN maupun Bukan ASN. “Kami ingin setara, agar guru di negeri dan swasta diperlakukan sebagai guru profesional. Kami yakin RUU Sidiknas memiliki niat baik,” katanya.

“Kami akan memberikan masukan dengan teman-teman yang memiliki sudut pandang yang baik, mana yang lebih rendah, akan kami sampaikan. Mari kita lihat RUU dan mekanismenya bersama-sama,” kata Key Sur.

Pemerintah secara resmi telah mengajukan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Perubahan Prioritas Tahun 2022 kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Usulan itu disampaikan dalam rapat kerja pemerintah dengan DPRD, Rabu (24/8) lalu.

RUU Sisdiknas menggabungkan dan membatalkan tiga undang-undang terkait pendidikan, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Pemerintah terbuka dalam menerima saran dan masukan dari masyarakat. Pada tahap perencanaan, pemerintah mengundang puluhan lembaga dan organisasi untuk memberikan masukan atas RUU Sisdiknas versi awal dan naskah akademiknya. Masyarakat, baik perorangan maupun lembaga, dapat ikut memantau seluruh dokumen dan memberikan masukan melalui laman https://sisdiknas.kemdikbud.go.id/.

Kepala Bidang Standar, Evaluasi, dan Kurikulum, Dinas Pendidikan (Ka. BSKAP) mengatakan Anindito Aditomo. belum lama berselang.

Lihat Artikel Aslinya disini.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.